Percaya.web.id

Agen SEO Master Indonesia Terpercaya

REVIEW BUKU PELAYANAN PASTORAL KEPADA ORANG YANG BERDUKA

REVIEW BUKU PELAYANAN PASTORAL KEPADA ORANG YANG BERDUKA

Identititas buku
Judul buku : Pelayanan Pastoral Kepada Orang Yang Berduka
Pengarang : DR. J.L.C.H. ABINENO
Tahun terbit : 2011
Jumlah halaman : 180 halaman
Penerbit : PT BPK GUNUNG MULIA

Dalam buku yang berjudul pelayanan pastoral kepada orang yang berduka, dikatakan bahwa “kita berduka, karena kita kehilangan orang yang kita cintai dalam hidup kita : suami kita, isteri kita, anak-anak kita, orang tua kita dan lain-lain.  Kehilangan yang demikian kita alami atau rasakan sebagai kerugian. Kalau saya menganalisis dari isi buku diatas, saya tidak setuju. Pertama, berduka bukanlah ketika kita kehilangan orang tua, istri, anak dan lain sebagainya, tapi berduka adalah ketika kehidupan kita atau eksistensi kehidupan kita sebagai makhluk dibawa kekuasaan Allah mengalami kesusahan, baik kesusahan dalam bentuk penyakit, ekonomo dan bahkan kematian.
Definisi kedukaan dalam buku ini adalah sikap atau reaksi kita terhadap kematian dari orang yang kita cintai. Dengan melihat kritisan saya diatas, maka sangat jelas bahwa saya menolak definisi kedukaan yang hanya di relasikan dengan kematian saja.
Istilah kedukaan  dapat juga diartikan bukan hanya ketika kita kehilangan seorang anggota keluarga yang kita cintai. Kita juga berduka, karena kita kehilangan sesuatu yang kita cintai. Tapi setiap penderitaan yang kita alami.
Kedukaan bukan hanya membutuhkan waktu, tetapi juga aktivitas. Bukan saja waktu yang dapat menyembuhkan luka-luka yang disebabkan oleh kematian orang yang kita cintai. Memang betul, kedukaan bukan saja membutuhkan waktu tetapi juga aktivitas. Karena melihat realitas yang terjadi sekarang ini, kedukaan dalam konteks daerah Tana toraja, waktu tanpa aktivitas dalam  kedukaan adalah suatu kehampaan.
Orang yang menanggung kedukaan, tidak dapat begitu saja menyesuaikan diri dengan situasi yang baru, dimana ia berada, kalau ia tidak menyadari situasi baru itu. Dengan perkataan lain : kalau ia tetap pasif dan tidak mau berbuat apa-apa. Dalam situasi yang demikian, waktu yang dimanapun banyakna tidak akan dapat membantunya. Saya berbeda pendapat dengan hal diatas, pertama : dalam realitas kehidupan yang di jalani, memang mayoritas orang yang tidak dapat menyesuaikan diri ketika sedang berduka, namun masih ada orang yang bisa menerima situasi baru. Intinya ada orang yang dapat begitu saja menerima situasi baru ketika dirinya dalam kedukaan.
Kemudian, bagi banyak orang proses kedukaan merupakan suatu peristiwa atau kejadian yang banyak meminta tenaga dan energi. Memang betul, dalam  kedukaan proses menguras tenaga dan energi.
Kalau saya melihat isi dari bab 1 dari buku pelayanan pastoral bagi orang yang berduka, yang di karang oleh DR. J.L.C.H. ABINENO, saya menyimpulkan bahwa proses kedukaan adalah peristiwa atau kejadian abadi yang terus menerus menggempur kehidupan semua insan manusia tanpa akhir dalam kosmos. Tidak ada kebahagian, tidak ada kesengan dan tidak ada surga yang dirasakan, yang ada hanyalah penderitaan atau kedukaan yang akan terus berlangsung dalam eksistensi kehidupan kita.
Dalam  kedukaan, bukan hanya pastor atau pendeta yang mempunyai tugas dalam kedukaan, tetapi orang yang berduka juga ikut serta didalamnya. Dari pernyataan ini, saya sangat setuju. Karena dalam proses kedukaan yang paling berperan aktif adalah orang yag mengalami kedukaan tersebut dan pastor hanyalah sebagai pengisi atau penghibur bagi orang yang berduka tersebut.
Tugas orang yang berduka adalah menerima, baik secara rasional maupun secara emosional kehilangan yang sedang dialaminya. Tugas ini tidak mudah, terutama ketika kehilangan, yang mereka derita itu, besar dan penting.  Betul, memang sebagai manusia yang sangat jauh dari kesempurnaan dan kebijaksanaan sangatlah sulit menerima kejadian-kejadian kejadian yang tidak terterima oleh akal kita. Namun sebagai manusia yang masih memiliki kesadaran harus menerima dengan lapang dada kedukaan tersebut, karena kita manusia yang di kuasai dan buka menguasai sang pencipta.
Orang-orang yang bersangkutan harus menyadari perasaan atau emosi mereka . maksudnya : bagaimana perasaan-perasaan atau emosi-emosi mereka hayati dan menagapa merreka menghayatinya demikian. Kalau hal-hal ini terjadi, maksudnya : kalau perasaan-perasaan atau emosi-emosi itu mereka sadari, mereka dapat “terus maju” dalam proses kedukaan mereka.
Kebebasan dalam pelayanan pastoral diberikan pastor  sepenuhnya kepada orang yang mengalami kedukaan, yang ia gembalakan, adalah salah satu bentuk respect dari pastor kepadanya. Memang betul, kebebasan dalam pelayanan pastoral harus diberikan sepenuhnya kepada orang yang sedang mengalami kedukaan karena merekalah yang menentukan keputusan-keputusan yang harus mereka putuskan dalam pelayanan pastoral.
Salah satu hal yang biasanya tidak banyak mendapat perhatian dalam pelayanan pastoral adalah “kebebasan”. Banyak pastor yang menolong” tidak atau kurang memberikan nilai yang positif kepada kebebasan. Dari pendapat ini, saya sebagai pembaca sangat setuju. Karena dengan meliha realitas yang tejadi banyak pendeta yang dalam pelayan pastoralnya, bukannya memberikan semangat atau hadir sebagai motivasi tetapi mereka hadir membuat situasi semakin mengalami kesedihan atau emosional dari orang yang mengalami kedukaan. Dalam penjelasan atau khotbah seorang pendeta terkadang mengalami banyaknya kekeliruan yang tidak di mengerti pendeta atau pastor tersebut. Berdasarkan pengalaman saya dalam mengamati pendeta dalam melakukan proses pastoral ternya hanya sebagian kecil yang mengerti pelayanan pastoral itu sendiri.
Hal yang perlu dilakukan oleh pastor, yang mau membantu orang dalam kedukaan atau kesusahan adalah berusaha untuk mengerti bagaimana orang-orang yang berduka itu menghayati kehilangan mereka. Kalau kita memperhatikan bagaimana posisi pastor dalam pelayanannya kepada orang yang mengalami kedukaan, memang betul pastor harus berusaha untuk mengerti bagaimana orang yang sedang mengalami kedukaan menghayati kedukaan mereka. Namun pastor juga haru mengerti cara untuk hal itu.
Pastor harus ingat, bahwa dalam masyarakat modern ini di kota-kota besar terdapat banyak orang kristen, yang tidak pernah atau jarang sekali mengalami, bahwa ada orang lain yang memperhatikan mereka, apalagi yang dengan kasih sayang menjamah mereka atau meletakkan  tangan diatas mereka yang memohonkan berkar Allah bagi mereka.
Selain itu, ada hal lain yang perlu diperhatikan oleh seorang Pastor dalam melakukan atau melayani, yaitu bahwa kalimat-kalimat yang, yang ia gunakan dalam percakapan pastoralnya, tidak boleh terlampau panjang. Pendapat ini sangat jelas dan sangat benar. pertama, kebanyakan pastor yang melakukan pelayanan pastoral dengan sikap dan gagah beraninya mengeluarkan banyak kata-kata, namun inti dari apa yang dikatakannya tidak ditemukan. Lebih lagi banyak dari orang yang sedang mengalami kedukaan sering tidak mengerti apa yang dikatakan oleh pastor dalam perkataan-perkataanya karena berbasa-basi. Apalagi ketika seorang pastor yang memotivasi seseorang yang mengalami kedukaan dengan cara memberikan semangat, dengan berkata lakukan ini, perbuatlah ini, namun dalam eksistensi pastor tersebut ketika dia mengalami kedukaan, apa yang pernah disampaikannya ketika sedang mempastori orang lain, dia sendiri tidak melakukannya. Inilah yang lebih fatal menurut saya.
Seorang pastor, janganlah menggukan ayat-ayat Alkitab ketika sedang melakukan pastoral, karena terkadang apa yang ada dalam Alkitab tidak terlalu mendukung atau tidak memberikan efek yang positif bagi orang yang sedang mengalami kedukaan. Harus begini, harus begitu. Ini adalah kekeliruan besar. Yang diperlukan dalam pelayanan pastoral adalah Teologi kontekstual dimana kita bisa memberikan arahan-arahan yang lebih baik dan mendukung dengan melihat dan menilai apa yang sedang terjadi (fungsional).
Akhir dari pastoral adalah bagaiman membangun relasi dengan orang yang sedang mengalami kedukaan. Membangun relasi dengan orang yang sedang mengalami kedukaan dengan cara, komunikasi yang baik, dan harus mengerti keadaan yang sedang terjadi dan tidak memiliki sikap Triumfalis dalam membuat relasi.
Mengakhiri percakapan. Percakapan harus diakhiri ketika semua apa yang perlu diungkapkan dengan melihat konteks.
TANGGAPAN
Secara garis besar, maka buku ini sangat baik dikalangan akademis seperti anda yang ingin tahu lebih mendalam mengenai pastoral kepada orang yang berduka.
Terima kasih..
Updated: Februari 26, 2018 — 8:32 am

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Percaya.web.id © 2016-2018 All Right Reserved Frontier Theme
error: Content is protected !!