Filsafat Antropologi | Sebuah Perspektif Tentang Manusia

Filsafat Antropologi | Sebuah Perspektif Tentang Manusia Sebenarnya agak sulit ya berbicara tentang diri sendiri 🙂 Siapa sih saya ini ? dari mana saya ? apa hakikat saya ? apa tujuan saya ? dan mengapa saya harus ada ? bagaimana eksistensi saya ? hakikat saya ? dan masih banyak lagi pertanyaan yang bertembaran di luar sana. Di sini saya hanya akan memaparkan dasar-dasarnya saja mengenai Filsafat antropologi, Entahlah bagaimana anda melihatnya namun akan saya paparkan se-detail mungkin mengenai Filsafat antropologi.

” Filsafat Antropologi “

Filsafat antropologi sebelumnya dikenal sebagai ‘fi lsafat psikologi’, yaitu sebuah disiplin fi lsafat yang berkembang pada sekitar abad ke-18 dengan proyek utama untuk membuktikan validitas dari gagasan tentang kapasitas konseptual pikiran, kehendak bebas, dan jiwa spiritual. Disiplin ini merupakan kelanjutan dari ‘psikologi rasional’ yang dipelopori oleh Christian von Wolff. Psikologi rasional mengkaji teori-teori metafi sika atas soul ‘jiwa’ dan mind ‘pikiran’. Psikologi rasional sendiri adalah reaksi Wolff atas kemapanan ‘psikologi empiris’ yang membatasi secara ketat kajiankajian atas jiwa hanya pada ‘yang bisa diobservasi’. Paradigma ilmu-ilmu alam (positivistik) demikian kuat mempengaruhi kajian-kajian psikologi pada saat itu, akibatnya psikologi menghindari setiap pertanyaan tentang jiwa yang berkaitan dengan teori-teori metafi sika. Psikologi empiris menjadi anti metafi sika, padahal sesungguhnya disiplin ini melanjutkan proyek Aristoteles tentang peri psychĂ©, yang tidak sekadar mengkaji jiwa lewat aspek-aspek ‘yang teramati’ saja melainkan juga aspek-aspek metafi sika lainnya. Aristoteles sendiri menaruh perhatian cukup besar atas aspek-aspek kehendak bebas dan keabadian jiwa dan menjadikannya sebagai bagian dari persoalan-persoalan psychĂ© disamping – tentu saja – persoalan lainnya yang menyangkut jiwa seperti imajinasi, memori, dan proses berpikir.

Filsafat antropologi merupakan salah satu cabang dari filsafat teoritika. Selain itu filsafat antropologi juga dapat disebut sebagai ilmu. Palmquis memahami bahwa filsafat mengalami apa yang disebut demitologisasi metafisis hingga mencapai tarafnya sebagai filsafat atau disebut evolusi filsafat hingga pencapaiannya yang tertinggi yakni ilmu pengetahuan. Sebab yang tahu adalah manusia, maka tahunya manusia tidak dalam taraf statis tetapi terus mengalami perkembangan sesuai tingkat dan luas tahunya manusia. Sebab dengan berkembangnya pengetahuan manusia, maka “berbagai disiplin ilmu satu persatu memisahkan diri dari filsafat”. (Jan, Hendrik, Rapar, Pengantar Filsafat, (Yogyakarta: Kanisius, 2005), hlm. 33).

Filsafat antropologi sebagai ilmu, sebab memiliki objek material adalah manusia; dan objek formalnya adalah totalitas manusia. Meskipun demikian, perkembangan tahu manusia, bukan tidak mungkin (berarti mungkin) menimbulkan masalah. Seperti yang diungkapkan oleh Leenhouwers bahwa dengan munculya berbagai disiplin ilmu memaksa “cara kerja ilmu menjadi fragmentaris”. (Leenhouwers,P., Manusia dan Lingkungannya. Refleksi tentang Filsafat Manusia. Diterjemahkan oleh K.J. Veeger, (Jakarta: Gramedia, 1998), hlm. 18). Fragmentaristis membuat “suatu keterbatasan metode observasi dan eksperimentasi tidak memungkinkan ilmu-ilmu tentang manusia untuk melihat gejala manusia secara utuh dan menyeluruh.

” Dua Objek Kajian Filsafat Manusia “
Ada dua objek kajian filsafat manusia, yakni objek materil dan objek formal. Objek kajian materil filsafat manusia adalah pada gejala atau fenomena manusia sedangkan objek formalnya adalah struktur-struktur hakiki manusia yang sedalam-dalamnya yang berlaku selalu dan di mana-mana untuk sembarang orang. Anton Bakker mengatakan bahwa hakikat manusia sebagai objek filsafat manusia ini meliputi dua aspek:
Manusia ingin dipahami seekstensif atau seluas mungkin. Bukan berupa sifat atau gejala saja, seperti misalnya berjalan, bekerja, malu, rasa takut, cinta kasih. Pemahaman manusia harus meliputi dan melingkungi semua sifat, semua kegiatan, semua pengertian pokoknya semua aspeknya pada segala bidang. Semuanya dipandang sebagai satu keseluruhan.
Manusia dipahami seintensif atau sepadat mungkin. Tidak diselidiki fungsi atau kegiatan manusia pada taraf tertentu saja, yaitu sejauh ia berupa dengan hal atau makhluk bukan-manusiawi lain. (Anton, Bakker, Antropologi Metafisik, (Yogyakarta: Kanisius, 2004), hlm. 12.).
Dengan demikian gejala dan struktur-struktur hakiki manusia tidak dipahami secara parsial atau sebagian melainkan menyeluruh dan secara ekstensif bahkan meliputi seluruh taraf manusia secara intensif. Bila pemahaman kita terhadap manusia hanya parsial maka pandangan dan kesimpulan kita mengenai manusia pun akan “parsial” bukan menyeluruh.

“Filsafat manusia dan Ilmu-ilmu Manusia Lainnya”
Palmquis memahami bahwa filsafat mengalami apa yang disebut “demitologisasi metafisis”[1] hingga mencapai tarafnya sebagai filsafat atau disebut evolusi filsafat hingga pencapaiannya yang tertinggi yakni ilmu pengetahuan. Sebab yang tahu adalah manusia, maka tahunya manusia tidak dalam taraf statis tetapi terus mengalami perkembangan sesuai tingkat dan luas tahunya manusia. Sebab dengan berkembangnya tahu manusia, maka “berbagai disiplin ilmu satu persatu memisahkan diri dari filsafat”.[2] Pemisahan diri tersebut, mengharuskan setiap disiplin ilmu memiliki objek material dan objek formal.

Manusia menjadi pusat kajian dari beberapa disiplin ilmu. Meskipun manusia menjadi objek tunggal namun setiap disiplin ilmu memiliki konsentrasi tertentu yang spesifik dalam area kajiannya. Filsafat manusia merupakan bidang kajian filsafat yang secara spesifik menyoroti hakikat atau esensi manusia yang pada dasarnya sama dengan disiplin ilmu yang lain seperti antropologi, kosmologi, etika, estetika, psikologi, dan lain-lain. Di antara disiplin ilmu yang ada antropologi dan psikologi memiliki kesamaan objek material dengan filsafat manusia. “Baik filsafat manusia dan ilmu-ilmu tentang manusia, pada dasarnya bertujuan untuk menyelidiki, menginterpretasi dan memahami gejala-gejala atau ekspresi-ekspresi manusia”. [3]

Meskipun antropologi dan psikologi memiliki kesamaan objek material dengan filsafat manusia namun filsafat manusia tetap memiliki perbedaan dan perbedaan itu menjadi ciri dari disiplin filsafat manusia. Letak perbedaan adalah pada area kajian masing-masing disiplin ilmu.

Pertama, ilmu-ilmu tentang manusia memiliki keterbatasan objek kajian yakni hanya pada “fenomena atau gejala” yang “difenomenakan atau digejalakan” manusia. Misalnya psikologi hanya terbatas pada gejala “psikis dan fisiologis”. Fenomena atau gejala tersebut kemudian diinterpretasi.

Kedua, ilmu-ilmu tentang manusia memiliki ruang lingkup yang sangat terbatas. Dimana kajian-kajian yang dilakukan hanya terbatas pada dimensi-dimensi tertentu dari manusia “yakni sejauh yang tampak secara empiris dan dapat diselidiki secara observasional dan/atau eksperimental”.[4] Sedangkan dimensi-dimensi non inderawi tidak mendapat tempat kajian dalam ilmu-ilmu tentang manusia.

Ketiga, bahwa kajiannya hanya seputar hal-hal empiris dan observasional sehingga hal-hal yang mendasar dari manusia tidak dikaji seperti apa hakekat atau esensi manusia, baik material maupun spiritual, bagaimana manusia sebagai subjek membangun hubungan dengan subjek yang lain (intersubjektif) atau dengan dunia infrahuman. Seperti yang dikatakan oleh Leenhouwers bahwa “cara kerja ilmu pun (terpaksa) menjadi fragmentaris”. [5] Fragmentaristis membuat “suatu keterbatasan metode observasi dan eksperimentasi tidak memungkinkan ilmu-ilmu tentang manusia untuk melihat gejala manusia secara utuh dan menyeluruh” [6] bukan parsial. Contoh yang diungkapkan ini, hanya merupakan sekelumit persoalan di sekitar batasan operasi tiap disiplin ilmu yang memisahkan diri dari filsafat menjadi ilmu mandiri.

Boleh dikatakan bahwa kajiannya adalah kajian yang parsial, artinya totalitas gejala manusia tidak tersentuh dalam pengkajian. Ilmu-ilmu tentang manusia seperti yang dikatakan oleh Ernest R. Hilgard dalam tulisan Zainal Abidin (Filfasat Mansia), bahwa “psikologi sebagai suatu ilmu, misalnya lebih menekankan pada aspek psikis dan fisiologis manusia sebagai suatu organisme”. [7] Pokok-pokok tentang manusia yang eksistensial tidak terkaji. Di sinilah letak perbedaan atau ketidaksamaan ilmu-ilmu tentang manusia dengan filsafat manusia.

Filsafat manusia tidak hanya terbatas pada phainomena psikis dan fisis melainkan merambah masuk pada noumenon manusia. Melalui fenomena yang difenomenakan manusia akan ditangkap fenomena tertentu oleh panca indra. Fenomena atau gejala yang ditangkap indra manusia kemudian di-aproach dengan disiplin ilmu tentang manusia.

Untuk mencapai tujuan pencapaian “penangkapan noumenon” tidak mudah. Ketidakmudahan tersebut terletak pada metode dan step-step dalam metode (bandingkan metode fenomenologi Edmun Huserl dan Martin Heideger).

Filsafat manusia mau menyelidiki dan mentematisir kesadaran tentang inti itu. Filsafat manusia juga berusaha untuk menguraikannya sebagai “objek langsung dan eksplisit”.[8] Maksudnya adalah “mengungkapkan” yang tidak nyata menjadi nyata. Maka dari itu “objek formal bagi filsafat manusia ialah struktur-struktur hakiki manusia yang sedalam-dalamnya, yang berlaku selalu dan di mana-mana untuk sembarang orang”. [9] Artinya dalam objek formal ini manusia harus dipahami seefektif mungkin dalam seluruh sifat dan kegiatan. Dan seintensif mungkin dalam seluruh fungsi sesuai dengan keunikannya atau ke-Aku-nya.

Metode Filsafat Manusia
Mengenai metode filsafat manusia sebelum lebih jauh menjelaskannya tentu sangat wajar untuk ditanyakan apa tujuan filsafat manusia? Setiap metode yang digunakan dalam penyelidikan tentu memiliki tujuan tertentu dalam hal ini untuk memperoleh sesuatu yang berbeda atau yang baru. Namun, sekalipun menggunakan metode, filsafat manusia “tidak mampu menemukan fakta-fakta baru mengenai manusia”.[10] Lalu seperti apakah sumbangsih yang akan diberikan filsafat manusia? Memang filsafat manusia tidak menemukan atau memberikan informasi baru tentang manusia namun melalui filsafat manusia, manusia dibantu untuk membuat suatu refleksi atas pengalaman azasinya (yang khas).

Refleksi yang dimaksud bukan refleksi non rasional melainkan “suatu refleksi atas pengalaman yang dilaksanakan dengan rasional, kritis serta ilmiah, dan dengan maksud untuk memahami diri manusia dari segi yang paling asazi”.[11] Dalam ber-reflkesi (Inggris: reflection, Latin: reflectere artinya melengkungkan kembali ke belakang) manusia melengkungkan diri sendiri atas pengalaman asazi yang telah dialaminya dan memahami diri sendiri secara mendalam (membalikkan itu ke dalam pusat kesadaran/batin) untuk menemukan suatu makna baru atas pengalaman asaziah itu. Refleksi sendiri menunjuk pada esensi sesuatu (misalnya apa esensi iman, bagaimana menanggapi hal yang esensial itu), dan kepada proses pemahaman diri. Berarti bahwa filsafat manusia memberi perhatian pada eksistensi manusia. Istilah ini merupakan gabungan dari dua akar kata (Latin) yakni “ex” artinya “keluar” dan “sistentia atau sistere” artinya ”berdiri”. Eksistentia berarti keluar dari diri atau tampil keluar. Di dalam tampil keluar inilah manusia dapat mengambil atau membuat distansi sehingga dapat mengevaluasi diri ataupun merefleksi diri.

Ada beberapa metode yang di pergunakan dalam filsafat manusia, antara lain sebagai berikut : [12]
1. Metode Kritis
Titik tolak metode ini adalah pada pendapat para filsuf, teori-teori ilmu lain, atau keyakinan-keyakinan sehari-hari yang agak sentral. Di dalam metode inipun dipergunakan metode eleminasi.Artinya jawaban yang tidak sesuai dieleminir atau bahkan diperbandingkan sehingga yang cocok itulah yang dipergunakan.

2. Metode Analitika Bahasa
Maksud dari metode analisa bahasa adalah untuk melepaskan istilah-istilah yang dipergunakan dalam percakapan sehari-hari dari kekaburan arti atau menghindari unsur dwi arti sehingga istilah-istilah atau bahasa yang dipergunakan sehari-hari jika tidak benar maka dibekukan.
3. Metode Fenomenologi
Metode ini memiliki kaitan dengan Edmun Husserl. Maksudnya adalah untuk mengembalikan kepada apa adanya. Metode ini berusaha untuk menemukan kembali pengalaman asli dan fundamental melalui reduksi. Metode ini kemudian dikembangkan kembali oleh Martin Heideger.

4. Metode Transendental
Titik tolak dari metode ini adalah pada kegiatan berbicara dan berpikir dalam manusia. Setiap pernyataan dan kegiatan termuat pengandaian-pengandaian yang ikut menentukan secara operatif. Artinya pengandaian-pengandaian (kemungkinan-kemungkinan) itu tidak dihadirkan secara pasif melainkan aktif bekerja meskipun kehadirannya hanya secara implicit. Pengandaian-pengandaian tersebut di pahamai sebagai alternative-alternatif atau kemungkinan-kemungkinan yang bisa saja kita pilih. Di sini analisis transcendental hendak menyelidiki pengandaian-pengandaian operatif yang implicit dan mencari syarat-syarat apriori. Tahap ini disebut “reduksi transcendental”. Tahap selanjutnya adalah pemutarbalikan atau retortion sebagai pembuktian keharusan mutlak yang berlaku untuk syarat-syarat apriori tadi. Tahap terakhir adalah tahap “deduksi transendental”. Dengan demikian, Filsafat antropologi merupakan salah satu cabang dari filsafat teoritika adalah Ilmu yang mengamati seluk beluk tentang manusia.

Demikian Post : Filsafat Antropologi | Sebuah Perspektif Tentang Manusia

Referensi :
[1] Stephen, Palmquis, Pohon Filsafat, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2002), hlm. 37-38.
[2] Jan, Hendrik, Rapar, Pengantar Filsafat, (Yogyakarta: Kanisius, 2005), hlm. 33
[3] Zainal, Abidin, Filsafat Manusia: Memahami Manusia Melalui Filsafat, (Bandung: Remaja Rosda Karya, 2003), hlm. 3
[4] Ibid
[5] Leenhouwers, P. Manusia dan Lingkungannya: Refleksi Filsafat Tentang Manusia, (Jakarta: Gramedia, 1988), hlm. 18
[6] Zainal, Abidin, Filsafat Manusia, (Jakarta: Rosda Karya, 2003), hlm. 4
[7] Ibid, hlm. 5.
[8] Bakker, op.Cit. Hlm. 12.
[9] ibid
[10] ibid
[11] Adelbert, Snijders, Antropologi Filsafat: Manusia Paradoks dan Seruan, (Yogyakarta: Kanisius, 2006), hlm. 18.
[12] Baker, op. Cit, hlm. 14

Ikuti Blog ini di Media Sosial
Updated: Maret 1, 2018 — 8:43 pm

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *