Percaya.web.id

Agen SEO Master Indonesia Terpercaya

Ateisme | Tidak Ada Tuhan

Ateisme | Tidak Ada Tuhan – Pada kesempatan kali ini, saya akan memaparkan salah satu aliran kepercayaan yang sangat kontradiktif memasuki era modern dan postmodern sekarang ini. Saya akan membahas ateisme. Semoga memberikan kontribusi untuk pemikiran anda yang ekslusive.

A. Pengantar

Siapakah Tuhan ini ?, bukankah Ia adalah pengasih yang mengacaukan dunia!, bukankah Ia adalah imajinasi belaka manusia dalam ketakutannya akan kematian!, bukankah Ia adalah penghambat kemajuan pengetahuan manusia!, bukankah Ia adalah mitologi fiktif!, bukankah ia adalah proyeksi dari diri manusia!, bukankah Ia sudah mati!!. Demikianlah ungkapan para Ateisme dalam aliran Filsafat Positivisme, Empirisme, Materialisme, Humanisme dan Eksistensialisme.
B. Pembahasan
Dimanakah Dia yang akan menyenangkan hatiku, yang akan melegahkan kehausanku, sang penjaga hidupku, penerang hidupku, panduku menuju perdamaian dunia? aku tak melihatnya, aku tak merasakannya, aku tak mendengarnya! Kicauan nama-Nya terdengar dalam tembok-tembok kuil dan di atas mezbah/mimbar. Aku gemetar dalam kesendirianku, ketakutan dalam bayang-bayang dunia yang begitu jahat dengan status alamiahnya. Dimanakah Dia? demikianlah ungkapan salah satu teman saya ketika kami sedang mendiskusikan Skripsi yang sedang di susunnya. Memang tidak dapat di pungkiri bahwa Tuhan yang dipercayai oleh kebanyakan orang adalah Tuhan yang selalu bersembunyi dan berbunyi dalam kekosongan-Nya akibat ganasnya manusia yang selalu menuntut hadirnya diri-Nya dalam hidup yang tak lebih dari sebuah ketololan ini.
Aguste Comte adalah Tokoh Ateisme Dari Aliran Filsafat Positivisme. Ia membagi sejarah umat manusia atas tiga tahap. Pertama, tahap Teologi, kedua tahap Metafisika, ketiga tahap positif. Bagi Comte bahwa tiga tahap perkembangan umat manusia tidak saja berlaku bagi suatu bangsa atau suku, tetapi juga individu dan ilmu. Ketika masih kanak-kanak, seseorang menjadi teolog. Ketika remaja dia menjadi metafisikus, danketika dewasa dia menjadi positif. Ilmu juga demikian, pada awalnya ilmu di kuasai oleh teologis, sesudah itu di abstraksikan oleh Metafisika dan akhirnya baru di cerahkan oleh hukum-hukum positif.  Paham positivis adalah paham yang melihat kenyataan suatu objek secara langsung, yang bisa di ukur dan yang bisa di buktikan kebenarannya. Sangat jelas bahwa Tuhan  tidak bisa di buktikan, dan Ia tak lebih hanya makhluk supranatural dalam retoris saja.

 

David Hume, tokoh empirisme. dia mengatakan ketika kita percaya kepada Tuhan sebagai pengatur alam ini, kita berhadapan dengan dilema. Kita berfikir tentang Tuhan menurut pengalaman masing-masing, sedangkan itu hanya setumpuk persepsi dan koleksi emosi saja.
Ludwig Andreas Feuerbach, Tokoh Paham Ateisme Dari Filsafat Materialisme. Ia mengatakan bahwa Tuhan adalah Proyeksi dari diri manusia. hakekat Tuhan tak lain dari pada hakekat manusia yang absolutkan dan di objektifkan sama dengan mengatakan bahwa Tuhan adalah hasil “proyeksi diri manusia sendiri” dengan proyeksi diri sendiri yang di maksudkan bahwa manusia memiliki kekuatan-kekuatan hakiki. Kekuatan hakiki manusia itu terbatas dan tidak sempurna, maka dia membayangkan adanya sebuah kenyataan yang memiliki semua itu secara tak terbatas. Kenyataan itu lalu di bayangkan berada di luar dirinya, sebuah kenyataan objektif. Kenyataan itu sebenarnya tidak lain daripada objetifikasi kesadaran diri manusia sendiri, dan dalam bahasa Feuerbach disebut proyeksi diri. Dengan kata lain bahwa semua sifat yang digambarkan manusia terhadap Tuhan adalah sebetulnya adalah sifat manusia itu sendiri. contohnya : Tuhan itu baik. Bukankah sebenarnya kita sedang mengatakan kepada diri kita sendiri bahwa manusia itu baik.
Lanjut, Menurut Feuerbach Tuhan adalah mimpi yang paling bagus dari hati manusia dan manusia merasa paling bebas, paling diberkati di dalam agamannya. Dalam agamamanusia “merayakan hari minggunya”. Tuhan adalah keluhan yang terungkapkan dari paling dalam hati manusia. Tuhan adalah pusat perasaan. Oleh karena itu Tuhan telah menjadi manusia dan Tuhan telah bangkit dari kematian.  Singkatnya bahwa Feurbach mengatakan bahwa Teologi adalah Antropologi yang sempurna. Tuhan tak lain adalah manusia itu sendiri, bukan sesuatu yang ada diluar diri kita, yang lebih kuat dari diri kita, melainkan Tuhan adalah kita sendiri.
Nietzche, Dengan matinya Tuhan, manusia baru bisa bebas berbuat dan bertindak. Sebab selama ini manusia dikungkung oleh nilai-nilai agama, seperti pahala dan dosa. Sekarang Tuhan sudah mati dan terkubur, oleh karena itu manusia tidak usah takut lagi dengan dosa. Dia bebas untuk menentukan nasibnya dan menjadi manusia super. Manusia super, menurut Nietzsche, adalah tujuan manusia, lawanya adalah manusia budha yang tidak mewakili ambisi. Kebajikan yang utama adalah kekuatan, yang kuatlah yang menang dan segala yang baik harus kuat. Sebaliknya, yang lemah pasti buruk. Kematian Allah dan kelahiran supermen. Dalam tulisan ilmu ceria, diceritakan tentang “peristiwa yang paling penting jaman” yaitu kematian Allah. Allah (penemuan dari manusia sendiri) di bunuh oleh manusia. Semakin manusia kurang percaya akan Allah, makin terbuka jalan untuk energinya. Konsep “Allah”, kata Nietzsche, merupakan musuh terpenting untuk konsep “eksestensi”. Ide “Allah” berperang dengan “hidup”. Lalu kematian ide “Allah” membuka jalan untuk hidup manusia. Kalau meninggal, manusia sendiri menjadi semacam keilahian, Uebermensch superman.  Dengan kata lain bahwa Kematian Tuhan adalah kebangkitan manusia dari keterkungkungan hukum dan aturan, ia bebas dan kuat sebagai manusia tanpa pagar-pagar penjara yang tak menghidupkan.
Senada dengan itu, Menurut Sartre kebebasan manusia adalah mutlak dan sekaligus merupakan hukuman, sebagaimana pohon dihukum menjadi pohon, manusia dihukum menjadi bebas. Di balik kebebasan itu, manusia di tuntut bertanggung jawab terhadap dirinya sendiri. Artinya, manusia menemukan kebebasan, tetapi justru kebebasantersebut dirasakannya sebagai beban yang berat. Tidak ada yang dapat meringankan beban tersebut, termasuk Tuhan. Menurut Sartre, Tuhan tidak dapat dimintai bertanggung jawab dan tidak bisa dijadikan untuk menggantungkan tanggung jawab. oleh karena itu, dan kebebasan yang dimiliki manusia maka manusia bertanggung jawab.

Mari sejenak berpikir tentang surga dan neraka. Menurut mereka (kaum agamawan), ini adalah ciptaan Tuhan bagi manusia yang baik dan yang jahat. Tuhan sudah mati, jelas bahwa hal itu pun ikut mati bersama diri-Nya. Manusia bebas, manusia abadi, manusia kuat, manusia adalah Tuhan bagi dirinya sendiri. Mill salah seorang Ateis mengatakan bahwa “Apapun kekuatan yang ada di atasku, satu hal yang tak ingin dia aku melakukannya, dia tidak akan  memerintahku untuk menyembah-Nya. Aku akan menyebutnya sebagai bukan sesuatu yang baik, bila misalnya aku melakukan itu pada makhluk ciptaanku. Dan bila sesuatu itu mengirimku ke neraka, karena aku tak menyembahnya, maka ke neraka aku akan pergi”. Sangkaku, surga dan neraka adalah ada dalam duniaku ini, bukan tempat yang ada dalam iming-iming para hedonis dan kaum agamawan. Mereka hanya menaburkan kekosongan dalam ketidakberdayaan iman bombastic.

Mari membaca, temukanlah Tuhan dalam kata, karena memang dia tak lebih dari sebuah huruf, T, U, H, A, dan N, yang digabungkan menjadi kata TUHAN. Jika tidak ada kesepakatan tentang itu, mari mencari Tuhan yang supranatural itu! Tapi dimana ? kita tidak akan pernah menemukan-Nya, kecuali kehampaan.

C. Kesimpulan
Dari pemaparan diatas, penulis menyimpulkan bahwa Tuhan tak lain adalah Pengetahuan anak kecil yang masih terbuai dengan mitologi-mitologi, membuangnya adalah kebaikan bagi orang dewasa. Tuhan adalah persepsi, tak lebih dari sebuah kata. Tuhan adalah proyeksi diri manusia, ia tak lain hanyalah ciri-ciri manusia (antropomorfisme), Tuhan adalah mimpi. Tidak, IA TELAH MATI.

“Setitik kata”
Berpikirlah se-rasional mungkin untuk membuka rumah yang selama ini tertutup, keluarlah pandanglah dunia ini dengan rasio, empirik dan eksistensial, karena keindahan dunia terletak disitu, bukan terletak pada khayalan/imajinasi/visiun tanpa makna.
Semoga Bermanfaat untuk anda yang masih berada dalam lingkungan akademis..
Post : Ateisme

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Percaya.web.id © 2016-2018 All Right Reserved Frontier Theme
error: Content is protected !!