Aliran Filsafat Pragmatisme

Aliran Filsafat Pragmatisme | Bebicara mengenai aliran filsafat, maka pastinya sudah banyak yang mengerti dan mengetahuinya secara mendalam. Nah, pada kesempatan kali ini saya akan membagikan postingan tentang salah satu aliran filsafat yang sangat terkenal pada abad 18 (modern), yakni filsafat Pragmatisme. Pragmatisme merupakan gerakan filsfat Amerika yang menjadi terkenal selama satu abad terakhir. Ia adalah filsafat yang mencerminkan dengan kuat sifat-sifat kehidupan Amerika. Pragmatisme banyak hubungannya dengan nama seperti Charles S. Peirce (1839-1934), Willam James (1842-1910), John Dewey (1859-1952) dan George Herberrt Mead (1863-1931)

Pragmatisme berusaha untuk menengahi antra tradisi empiris dan tradisi idealis, dan menghubungkan hal yang sangat berarti dalam keduanya. Pragmatisme adalah suatu sikap, metode dan filsafat yang memakai akibat-akibat praktis dari pikiran dan kepercayaan sebagai ukuran untuk menetapkan nilai-nilai kebenaran. William James mendefinisikan pragmatisme sebagai sikap memandang jauh terhadap benda-benda pertama, prinsip-prinsip dan kategori-kategori yang dianggap sangat penting, serta melihat ke depan kepada benda-benda yang terakhir, buah akibat dan fakta-fakta.

Pragmatisme lebih menekankan kepada metoda dan pendirian daripada kepada doktrin filsafat yang sistematis. Ia adalah metoda penyelidikan eksperimenal yang dipakai dalam segala bidang pengalaman manusia. Pragmatisme memakai metode ilmiah modern sebagai dasar suatu filsafat. Ia sangat dekat kepada sains, khususnya biologi dan ilmu-ilmu kemasyarakatan, dan bertujuan untuk memakai jiwa ilmiah dan pengetahuan ilmiah dalam menghadapi problema-problema manusia termasuk juga etika dan agama. Kelompok pragmatis bersikap kritis terhadap sistem-sistem filsafat sebelumnya seperti bentuk-bentuk aliran materialisme, idealisme, dan realisme. Mereka mengatakan bahwa pada masa lalu, filsafat telah keliru karena mencari hal-hal yang mutlak, yang ultimate, esensi-esensi abadi, substansi, prinsip yang tetap dan sistem kelompok empiris, dunia yang berubah serta problema-problemanya, dan alam sebagai sesuatu dan kita tidak dapat melangkah keluar daripadanya. Bagi John Dewey, pengalaman adalah pokok. Pengalaman adalah hasil dari pengaruh timbal balik antara organisme dan lingkungannya.

Walaupun pragmatisme sebagai filsafat yang sistematis adalah baru jika dibandingkan dengan yang lain, namun sikap dan ide-ide yang serupa dapat ditemukan dalam karangan pemikir-pemikir yang terdahulu. Sebagai contoh, kata pragmatis dipakai oleh Kant untuk menunjukkan pemikiran yang sedang berlaku dan ditetapkan oleh maksud-maksud dan rencana-rencana. Ia menggunakan kata pragmatis sebagai kebalikan dari kata praktikal yang menunjukkan kepada bidang etika. Kant mengajak untuk mendapatkan watak moral khususnya rasa kewajiban, dan kemauan untuk menegakkan kebenaran beberapa keyakinan seperti: kemerdekaan kemauan, Tuhan dan kelangsungan jiwa. Prinsip Kant tentang lebih pentingnya akal praktis telah merintis jalan bagi pragmatisme.

1. Charles S. Pierce
Charles S. Pierce yang terkenal sebagai pendiri pragmatisme, mendapat pengaruh dari Kant dan Hegel. Pierce mengatakan bahwa problema-problema termasuk persoalan-persoalan metafisik dapat dipecahkan jika kita memberi perhatian kepada akibat-akibat praktis dari mengikuti bermacam-macam pikiran. Orang mengatakan bahwa pragmatisme muncul pada tahun 1878 ketika Pierce menerbitkan makalanya yang berjudul How To Make Our Ideas Clear.

Walaupun ia tidak pernah menulis suatu buku tentang filsafat atau menyusun pikirannya dalam suatu bentuk yang sistematis, namun kegiatannya dalam sastra berlangsung bertahun-tahun. Dengan diterbitkan tulisan-tulisannya dalam dasawarsa terakhir, perhatian kepada filsafat Pierce bertambah dan diakui sebagai intelektual yang luar biasa. Ia merupakan suatu gabungan yang langka antara seorang ilmuwan fisika dengan kebiasan-kebiasaan memikir tentang laboratorium, seorang peminat filsafat, dan seorang yang mempunyai keyakinan moral yang kuat.

Pierce merupakan seorang ahli logika yang mementingkan problema teknis dari logika dan epistemologi serta metoda sains dalam laboratorium. Perhatiannya dalam logika mencakup penyelidikan sistem deduktif, metodologi dalam sains empiris dan filsafat yang ada di belakang metoda dan teknik yang bermacam-macam. Logikanya mencakup teori alamat (signs dan symbols) dan karyanya dalam hal tersebut merupakan karya perintis. Ia memandang logika sebagai alat komunikasi atau usaha kooperatif atau umum. Pendekatan semacam itu memerlukan penelitian yang kritis dan memerlukan bantuan orang lain dalam usahanya yang terus menerus untuk menjelaskan pikiran-pikiran. Pierce berhasrat untuk mendirikan filsafat atas dasar ilmiah dan untuk menganggap teori-teori sebagai hipotesa yang berlaku. Ia menamakan pendekatan-pendekatannya itu pragmatisme.

Salah satu sumbangan Pierce yang paling penting bagi filsafat adalah teorinya tentang arti. Pada hakekatnya ia membentuk satu dari teori-teori modern tentang arti dengan mengusulkan suatu teknik untuk menjelaskan pikiran. Hal itu dapat ditemukan dengan baik jika kita menempatkan pikiran tersebut dalam ujian eksperimental dan mengamati hasilnya. Ukurannya tentang berarti adalah dengan memperhatikan bagaimana suatu benda akan bertingkah jika ia mempunyai suatu sifat atau termasuk dalam suatu jenis. Jika benda itu keras ia akan menggores benda-benda lain, dan jika ia bersifat seperti bensin, ia akan menguap dengan cepat, dan lain-lain.

Empirisme Pierce lebih bersifat intelektual daripada voluntaris (segi kemauan); ini berarti bahwa ia menekankan kepada intelek dan pemahaman lebih daripada kemauan dan aktivitas. Rasa tidak enak karena sangsi mendorong kita mencari keyakinan. Hasil dari pencarian tersebut, yang maksudnya adalah untuk menghilangkan kesangsian, adalah pengetahuan. Dengan begitu maka ia tidak menekankan kepada rasa indrawi atau kemauan seperti yang dilakukan oleh bentuk-bentuk terakhir dari pragmatisme umum. Di satu pihak, Pierce bersifat kritis terhadap intuisionisme dan prinsip-prinsip a priori. Walaupun ia setuju dengan sebagian dari pandangan-pandangan a priori, ia tidak menyetujui pandangan yang mengatakan bahwa empirisme memerlukan pengingkaran terhadap kemungkinan metafisik.

Dalam bidang metafisik dan lain-lainnya, kita harus menjauhkan diri dari rasa telah mencapai tujuan akhir. Pierce setuju dengan faham fallibilism. Orang yang sangat pandai pun dapat salah juga. Penyelidikan yang progresif akan membawa kita kepada perubahan yang terus menerus. Pierce percaya kepada chance (nasib), karena walaupun alam itu bertindak secara teratur menurut hukum alam, ia berpendapat bahwa keteraturan alam itu tak pernah sempurna. Nasib dan kebiasaan memegang peran dalam kejadian-kejadian di dunia. Fallibilisme dan hari kemudian yang terbuka menggantikan skeptisisme dan absolutisme, dan pragmatisme menggantikan sistem kepercayaan yang tetap dalam filsafat dan sains. Walaupun Pierce sangat memperhatikan logika dan metodologi, tulisan-tulisannya menunjukkan secara jelas bahwa ia memberi tempat kepada idealisme evolusioner yang menekankan kebutuhan kepada prinsip cinta, sebagai kebalikan dari individualisme yang sempit dalam urusan-urusan manusia.

2. William James
Perkembangan pragmatisme yang cepat adalah disebabkan oleh tanah yang subur yang ditemukan di Amerika dan oleh penyajian yang sangat menarik dari William James. Dalam bukunya Pragmatism, James mempertentangkan rasionalis yang lunak yang biasanya mempunyai pandangan yang idealis dan optimis, dengan empiris yang keras, yang suka kepada fakta, dan yang biasanya merupakan seorang materialis dan pesimis. Kepada mereka itu James berkata: “Aku menyajikan pragmatisme, suatu aliran yang namanya aneh, sebagai suatu filsafat yang dapat memuaskan dua macam kebutuhan. Pragmatisme dapat tetap bersifat religius seperti rasionalisme, tetapi pada waktu yang sama, ia sangat memperhatikan fakta sebagaimana aliran empirisme”.

a. Empirisme Radikal
James mendefinisikan istilah empirisme radikal sebagai berikut: “Aku mengatakan empirisme oleh karena empirisme merasa puas untuk menganggap hasil pekerjaannya dalam bidang materi hanya sebagai hipotesa yang dapat diubah menurut pengalaman di kemudian hari”. James juga pernah berkata: “Untuk menjadi radikal suatu empirisme harus tidak menerima dalam bentuknya unsur apa saja yang tidak dialami secara langsung, atau mengeluarkan dari bentuknya unsur yang dialami secara langsung”. James menganggap hubungan (relation) seperti “lebih besar daripada” sebagai salah satu dari unsur-unsur yang dialami secara langsung.

Pragmatisme sebagaimana telah dikemukakan di atas, adalah tindakan menengok terhadap hasil-hasil dari fakta-fakta, dan bukan terhadap prinsip-prinsip dan kategori. Ia menerima pengalaman-pengalaman dan fakta-fakta kehidupan sehari-hari sebagai dasar. Realitas adalah hal yang dialami, apakah itu merupakan benda atau perubahan keadaan. Oleh karena pengalaman itu terpisah-pisah, maka kelompok pragmatis mendapatkan benda-benda ada yang disambung dan ada yang perlu dipisah serta menerima apa adanya. Sebagai akibat, mereka berpendapat bahwa realitas itu banyak (pluralitas) dan tidak satu (monistis) atau dua (dualistic). Terdapat paham yang kita terima, yakni data rasa yang dibawakan dari luar diri kita sebagai stimulus (daya perangsang). Kemudian ditambah dengan unsur interpretatif yang diberikan oleh makhluk yang sadar. Pengalaman kita yang kreatif yang terdiri atas bahan yang kita terima serta unsur interpretatif merupakan realitas yang kita ketahui. Dengan begitu, maka pengetahuan didasarkan atas persepsi indrawi atas pengalaman yang membentuk kesadaran yang terus menerus.

b. Teori Kebenaran William James
James memberikan suatu pernyataan yang membingungkan yaitu truth happens to an ideas (kebenaran itu terjadi kepada suatu ide). Hal yang membingungkan dalam pernyataan itu adalah bahwa teori kebenaran yang tradisional mengatakan sebaliknya, yakni bahwa kebenaran itu suatu hubungan yang pasti dan tetap (statis). Ketika James menyelidiki teori-teori kebenaran yang tradisional, ia menyatakan, apakah arti kebenaran dalam tindakan. Kebenaran harus merupakan nilai dari suatu ide. Tidak ada sesuatu motiv dalam mengatakan bahwa sesuatu itu benar atau tidak benar, kecuali untuk memberi petunjuk bagi tindakan yang praktis.

James akan bertanya, “Apakah perbedaan yang kongkrit yang akan disebabkan oleh ide itu dalam penghidupan?”. “Suatu perbedaan yang tidak menyebabkan perbedaan bukanlah perbedaan”, akan tetapi hanya permainan kata. Suatu ide menjadi benar atau dijadikan benar hanya oleh kejadian-kejadian. Suatu ide itu benar jika ia berhasil atau jika ia memberi akibat-akibat yang memuaskan. Kebenaran itu relatif, kebenaran juga berkembang. Kebenaran (truth) adalah yang menjadikan berhasil dalam cara kita berpikir dan kebenaran (right) adalah yang menjadikan berhasil cara kita bertindak.

Ide, doktrin dan teori menjadi alat untuk membantu kita menghadapi situasi; doktrin bukannya jawaban terhadap permasalahan. Suatu teori itu adalah buatan manusia untuk menyesuaikan diri dengan maksud-maksud manusia, dan satu-satunya ukuran kebenaran suatu teori adalah jika teori tersebut membawa kita kepada hal-hal yang berfaidah. Keberhasilam (workability), kepuasan (satisfiction), konsekuensi dan hasil (result) adalah kata-kata kunci dalam konsep pragmatisme tentang kebenaran.

Moralitas, seperti kebenaran, bukannya tetap akan tetapi berkembang karena situasi kehidupan, sumber dan otoritas bagi kepercayaan, dan tindakan hanya terdapat dalam pengalaman. Hal yang baik adalah sesuatu yang memberikan kehidupan yang lebih memuaskan; yang jahat adalah sesuatu yang condong untuk merusak kehidupan. James adalah seorang pembela yang kuat bagi kemerdekaan moral dan indeterminisme. Ia percaya bahwa determinisme adalah pemalsuan intelektual dan pengalaman. Ia mendukung meliorisme, yang berarti bahwa dunia itu tidak seluruhnya jahat dan tidak seluruhnya baik, akan tetapi dapat diperbaiki. Usaha manusia untuk memperbaiki dunia adalah berharga dan berfaidah, dan kecondongan evolusi biologi dan sosial adalah ke arah perbaikan semacam itu.

c. Kemauan untuk Percaya
James mencurahkan perhatiannya yang sangat besar kepada agama. Doktrin pluralisme kebenaran, meliorisme, begitu juga doktrinnya tentang kemauan untuk percaya, semuanya memberi sumbangan kepada pendapatnya tentang agama dan Tuhan. Pada akhir-akhir karyanya ia mengakui bahwa ‘kemauan untuk percaya’ dapat dinamakan ‘hak untuk percaya’.
Pertama, bahwa empirisme radikal tidak lagi mencari kebutuhan manusia serta kesatuan manusia dan kesatuan metafisik di belakang pengalaman, dan menekankan aliran kesadaran yang ada. Kesadaran menunjukkan minat, keinginan dan perhatian; ia merupakan tindakan kemauan dan rasa indrawi, segi yang menentukan adalah kemauan dan bukan akal. Kemauan menetapkan bagaimana dan apa yang akan kita alami; dengan begitu maka secara empiris berpikir itu nomor dua sesudah ‘mau’. Apa yang dipilih dan ditekankan menjadi vital dan riil. Dengan begitu maka dunia yang kita alami sebagian besar adalah bikinan kita sendiri.

Mengenai ide-ide kita, keadaannya sama dengan persepsi indrawi kita. Ide-ide yang menarik minat serta minta perhatian kita cenderung untuk menjauhkan ide-ide yang lain dan menguasai lapangan; dan ide-ide tersebut condong untuk menemukan ekspresi dalam tindakan-tindakan kita. Dalam kehidupan individual memerlukan mengambil beberapa keputusan. Bagaimana mereka harus bertindak untuk mengambil keputusan tersebut dan memformulasikan keyakinan mereka? Dalam beberapa keadaan, keadaannya jelas dan pasti, dan dalam keadaan tersebut mereka perlu bertindak sesuai dengan kejelasan tersebut. Dalam situasi lain, di mana pilihan antara tindakan yang dipertimbangkan itu dipaksakan atau sangat remeh, mereka dapat menangguhkan keputusan mereka atau sama sekali tidak mengambil keputusan. Tetapi terdapat situasi di mana orang-orang menghadapi permasalahan yang sangat menentukan (crucial) dan mereka harus mengambil pilihan dan bertindak, karena kegagalan mengambil pilihan berarti telah memihak kepada salah satu alternatif. Jika masalahnya adalah kehidupan, dipaksakan dan harus segera dilakukan, orang harus bertindak walaupun tidak mempunyai kejelasan yang dapat dipakai dasar untuk mengambil keputusan.

Aliran Filsafat Pragmatisme

Doktrin James tentang kehendak untuk percaya, berlaku bagi situasi nomor tiga ini, di mana suatu pengambilan keputusan diharuskan oleh situasi. Sebagai contoh, apakah saya mengawini wanita (atau pria) ini sekarang, atau harus menunggu sampai saya menjadi pasti bagaimana jadinya perkawinan itu nanti? Di sini seseorang tidak dapat mengetahui dengan pasti apakah perkawinan itu akan bahagia dan sukses. Tidak semua fakta dapat diketahui dan seseorang tidak dapat menunggu sampai bukti-bukti terkumpul semua; walaupun begitu, soalnya tetap hidup, dan dipaksakan serta harus dilakukan. Untuk tidak bertindak sudah berarti mengambil keputusan, yakni tidak akan mengawini orang itu sekarang. Jika kemauan untuk percaya mendorong kepada kepada pengambilan keputusan dan bertindak, kemauan tersebut membawa kita kepada penemuan dan keyakinan atau kepada kebenaran dan nilai, hanya karena fakta bahwa ada kemauan. Nilai-nilai kehidupan adalah empiris, dapat ditemukan dan dicoba dalam proses kehidupan.

Menurut James, dalam bermacam-macam pengalaman kehidupan, manusia mempunyai hubungan dengan suatu zat yang lebih (a ‘more’). Manusia merasakan di sekitarnya ada sesuatu yang simpatik dan memberinya dukungan (support). Ia menunjukkan sikap bersandarnya kepada zat tersebut dalam sembahyang dan doa. Rasa tentang adanya zat yang lebih (the ‘more’) membawakan ketenangan, kebahagiaan, dan ketenteraman; selain itu hal ini merupakan pengalaman universal. Dalam arti keagamaan, Tuhan adalah kecondongan ideal tersebut atau pendukung yang murah hati dalam pengalaman manusia.

Seperti telah diketahui, James terpengaruh oleh hal-hal yang baru, kemerdekaan, kemauan individualitas dan ketidakseragaman yang bersifat inheren dalam alam ini. Akibatnya ia menekankan pendapat bahwa Tuhan itu terbatas. Oleh karena dalam dunia ini terdapat kemungkinan-kemungkinan yang riil baik untuk kejahatan atau untuk kebaikan, maka tak mungkin ada Tuhan yang maha baik dan maha kuasa yang menciptakan dunia sebagai yang kita ketahui. Walaupun begitu Tuhan itu bermoral dan bersikap bersahabat dan manusia dapat bekerja sama dengan Tuhan dalam perjuangan menciptakan suatu dunia yang lebih baik.

3. John Dewey
Makin besar dan kuatnya pragmatisme secara terus menerus adalah berkat tulisan-tulisan John Dewey. Dewey mencapai kemasyhuran dalam logika, epistimologi, etika, estetika, filsafat politik ekonomi dan pendidikan. Bagi Dewey dan pengikut-pengikutnya istilah instrumentalisme dianggap lebih tepat dari istilah pragmatisme, akan tetapi kedua-duanya tetap dipakai.

Dewey adalah seorang yang bersifat kritis secara serius dan terus menerus terhadap jenis-jenis filsafat klasik dan tradisional dengan usaha untuk mencari realitas yang tertinggi dan menemukan zat yang tetap (immutable). Dewey mengatakan bahwa filsafat-filsafat semacam itu telah memperkecil atau menganggap rendah pengalaman manusia. Dewey mengatakan bahwa manusia telah memakai dua metoda untuk menghindari bahaya dan mencapai keamanan.

Aliran Filsafat Pragmatisme

Metoda pertama adalah dengan melunakkan atau minta damai kepada kekuatan-kekuatan di sekitarnya dengan upacara-upacara keagamaan, korban, berdoa, dan lain-lain. Metoda kedua adalah dengan menciptakan alat untuk mengontrol kekuatan-kekuatan alam bagi maslahat manusia. Ini adalah jalannya sains, industri, dan seni, dan cara inilah yang disetujui Dewey.

Tujuan filsafat adalah untuk mengatur kehidupan dan aktivitas manusia secara lebih baik, untuk di dunia, dan sekarang. Perhatian dialihkan dari problema metafisik tradisional kepada metoda, sikap, dan teknik untuk kemajuan ilmiah dan kema-syarakatan. Metoda yang diperlukan adalah penyelidikan eksperimental yang diarahkan oleh penyelidikan empiris dalam bidang nilai.

a. Pengalaman dan Dunia Yang Berubah
Experience (pengalaman) adalah salah satu dari kata kunci dalam filsafat instrumentalisme. Filsafat Dewey adalah mengenai dan untuk pengalaman sehari-hari. Pengalaman adalah keseluruhan drama manusia dan mencakup segala proses saling mempengaruhi antara organisme yang hidup dan lingkungan sosial dan fisik. Dewey menolak mencoba menganggap rendah pengalaman manusia atau menolak untuk percaya bahwa seseorang telah berbuat demikian.

Pada masa yang lalu pun para filosof berusaha menemukan pengalaman teoritis tertinggi (theoritical super-experience) yang dapat dijadikan dasar untuk hidup yang aman dan berarti. Dewey mengatakan bahwa pengalaman bukannya suatu tabir yang menutupi manusia sehingga tidak melihat alam; pengalaman adalah satu-satunya jalan bagi manusia untuk memasuki rahasia-rahasia alam.

Dunia yang ada sekarang, yakni dunia pria dan wanita, dunia sawah-sawah dan pabrik-pabrik, dunia tumbuh-tumbuhan dan binatang, dunia kota yang hiruk-pikuk dan bangsa-bangsa yang berjuang, adalah dunia pengalaman kita. Kita harus berusaha memahaminya dan kemudian berusaha membentuk suatu masyarakat di mana tiap orang dapat hidup dalam kemerdekaan dan kecerdasan.

Dewey menganggap persoalan evolusi, relativitas, dan proses waktu secara sangat serius. Dunia ini masing-masing tetap dalam penciptaan dan selalu bergerak ke muka. Pandangan tentang dunia seperti tersebut sangat bertentangan dengan gambaan realitas yang tetap dan permanen yang ditemukan pada filosof Yunani dan Abad Pertengahan.

Menurut Dewey, kita ini hidup dalam dunia yang belum selesai penciptaannya. Sikap Dewey dapat dipahami dengan sebaik-baiknya dengan meneliti tiga aspek dari filsafat instrumentalismenya. Pertama, kata temporalisme berarti bahwa ada gerak dan kemajuan yang riil dalam waktu. Kita tidak dapat lagi mengikuti pandangan seorang penonton tentang realitas. Pengetahuan kita tidak hanya mencerminkan dunia; ia mengubah bentuk dan wataknya. Kedua, kata futurisme mendorong kita untuk melihat hari esok dan tidak kepada hari kemarin. Hari esok yang berasal dari hari kemarin, tidak akan merupakan ulangan, akan tetapi merupakan hal yang baru. Ketiga, meliorisme, berarti bahwa dunia dapat dibuat lebih baik dengan tenaga kita, pandangan ini juga dianut oleh William James.

b. Metode Kecerdasan
Hal-hal yang pokok dalam filsafat Dewey adalah teori instrumental tentang ide-ide dan menggunakan intelegensia (kecerdasan) sebagai metoda. Memikir adalah biologis, ia mementingkan persesuaian antara suatu organisme dengan lingkungannya. Semua pemikiran dan semua konsep, doktrin, logika, dan filsafat merupakan alat pertahanan bagi manusia dalam perjuangan untuk kehidupan.

Penilaian yang reflektif terjadi jika terdapat suatu problema, atau jika adat kebiasaan kita terhalang dalam krisis-krisis tertentu. Intelegensi adalah alat untuk mencapai suatu tujuan atau beberapa tujuan yang dicari oleh individual atau masyarakat. Tidak ada bahan tertentu yang terpisah dalam otak dan mempunyai daya berpikir. Akal dimanifestasikan dalam kemampuan kita untuk menanggapi apa yang tidak jelas atau problematik dalam pengalaman. Mengerti dan bertindak, keduanya bersifat terus menerus. Mengetahui terjadi dalam alam dan faktor-faktor indrawi serta rasional tidak lagi berlomba-lomba, malahan bersama-sama sebagai bagian-bagian dari proses bersatu. Ide adalah rencana tindakan yang harus dilakukan. Teori ilmiah, seperti alat-alat yang lain dibuat oleh manusia dalam mencari tujuan-tujuan dan kepentingan-kepentingan yang khusus. Tujuan dan pemikiran adalah untuk membentuk kembali realitas yang telah dialami dengan peraturan teknik eksperimen.

c. Kemerdekaan Kemauan dan Kebudayaan
Menurut filsafat instrumentalisme Dewey, manusia dan alam selalu saling bersandar. Manusia bukannya sebagian badan dan sebagian jiwa, ia bersatu dengan alam dan alam diinterpretasikan sehingga mencakup manusia. Alam dalam manusia adalah alam yang sudah berpikir dan menjadi cerdas. Alam dikatakan tidak rasional dan tidak irrasional. Alam dapat dipikirkan dan dipahami, alam tidak hanya sesuatu yang harus diterima dan dimanfaatkan, tetapi sesuatu yang harus diubah dan dikontrol dengan eksperimen.
Dewey dengan kelompok instrumentalis modern adalah pembela yang gigih dari kemerdekaan dan demokrasi. Dewey adalah pembela kemerdekaan moral, kemerdekaan memilih, dan kemerdekaan intelektual. Ia juga pembela hak-hak sipil dan politik, termasuk di dalamnya kemerdekaan berbicara, kemerdekaan persurat kabaran, dan kemerdekaan berserikat. Ia menganjurkan diperluasnya prinsip-prinsip demokrasi dalam bidang sosial dan politik bagi seluruh bangsa dan kelas.

c. Suatu Keprcayaan Umum
Dewey dan banyak pengikutnya menolak supernaturalisme dan mendasarkan nilai-nilai moral dan agama atas dasar hubungan duniawi dari manusia. Nilai-nilai kehidupan dapat diuji kebenarannya dengan metoda yang berlaku bagi fakta-fakta lain. Dewey mengecam lembaga-lembaga greja tradisional, dengan tekanannya kepada ritus yang tak berubah dan dogma yang otoriter. Ia memakai kata sifat religious untuk melukiskan nilai-nilai yang menyempurnakan dan memperkaya kepribadian seseorang. Dengan begitu, maka segala tindakan yang diambil demi suatu cita-cita karena keyakinan atas nilai-nilai yang benar, adalah tindakan yang bersifat religious. Istilah Tuhan dapat dipakai untuk menunjukkan kesatuan segala maksud yang ideal, dalam kecondongannya untuk membangkitkan kemauan dan tindakan (Titus, dkk., 1984: 349-350).

Baca Juga  : Filsafat Dialektika Hegel

Demikian yang dapat saya paparkan mengenai Aliran Filsafat Pragmatisme.. Terima kasih dan semoga bermanfaat.

Ikuti Blog ini di Media Sosial
Updated: Maret 12, 2017 — 4:20 am

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *