Review Buku Beriman dan Berilmu Teologi Kristen

Judul Buku Beriman dan Berilmu
Pengarang David Cupples
Penerbit Bpk Gunung Mulia
Tahun Terbit 2001
Jumlah Bab  10 Bab
Jumlah Halaman 84 Halaman
BAB I
TANTANGAN STUDI TEOLOGI
Studi ataupun ilmu yang sedang ditekuni semestinya berdampak dalam kehidupan sehari-hari. Berkaitan dengan pertnyataan di atas, pertanyaan dari penulis buku ini menjadi menarik, ditujukan secara khusus kepada mahasiswa-mahasiswi teologi dan PAK. Apa dampak studi teologi atas kehidupan rohani  dan spritualitas saudara? Atau lebih tegasnya lagi, apakah anda adalah seorang mahasiswa teologi yang beriman sekaligus berilmu? Pertanyaan tentunnya sangat menantang.
Review Buku Beriman dan Berilmu Teologi Kristen

Selain itu, pertanyaan di atas tentunya mengajak setiap mahasiswa untuk mengevaluasi secara kritis mengenai hal-hal yang telah dipelajarinya yang berkaitan dengan teologi dan aplikasinya. Oleh karena itu buku ini sengaja dibuat dengan alasan membantu setiap pembaca menjawab pertanyaan di atas secara bertanggungjawab dengan menekankan prinsip-prinsip Kristiani.

Hal yang tidak kalah pentingnya dari buku ini, ialah bagaimana menunjukkan bahwa mempelajari teologi dapat sekaligus memperdalam pengenalan akan Kristus. Di sisi lain, buku ini dapat digambarkan sebagai suatu instrument yang dapat membantu setiap membacanya secara khusus mahasiswa teolgi untuk menghadapi beberapa kesulitan-kesulitan rohani yang dihadapi; juga membantu untuk semakin mengarahkan dalam menentukan pendekatan akan Allah.

BAB II
MENGHADAPI TANTANGAN

Berkembangnya paham radikal dalam wilayah kampus/akademis adalah suatu kewajaran. Namun di sisi lain juga menjadi tantangan tersendiri bagi perkembangan dan pertumbuhan iman mahasiswa. Dalam menghadapi tantangan perkembangan paham radikal tersebut, ada beberapa sikap yang cenderung mahasiswa pilih sebagai solusinya.

  • Sikap Tunduk

Sikap ini cenderung lebih memilih pasrah atau tunduk terhadap paham-paham radikal yang berkembang, sehingga penyangkalan akan otoritas kebenaran firman Allah ditantangnya.

  • Sikap Represi

Sikap ini merupakan sikap yang mencoba menghindari berbagai pertanyaan yang muncul dari paham-paham radikal. Sikap ini cenderung mengambil jalan menghindari perdebatan karena menganggap paham radikal dapat mengancam keimanan. Yang menarik dari bab ini, penulis menjelaskan bahwa sikap ini sangat berbahaya: a) membahayakan kesehatan jiwa, b) secara intelektual, member kesan bahwa kekristenan tidak sanggup menjawab pertanyaan tertentu, c) secara rohani, menghadiri tantangan membuat kemurnian iman semakin lemah, d) secara etis, sikap ini member kesan tidak jujur dan munafik karena berpura-pura menjauhkan diri dari pertanyaan dan pernyataan yang ada di sekitarnya.

  • Sikap Pemisahan

Sikap ini sengaja dengan anggapan bahwa, ada waktunya mahasiswa harus bersifat akademis dan ada waktunya bersifat rohani/beriman. Artinya, pada waktu tertentu tidaklah masalah jika tidak mengakui Yesus sebagai juruselat, namun di sisi yang lain mejadi penting untuk mengakui Yesus sebagai satu-satunya jalan keselamatan.

Tiga cara menghadapi tantangan di atas, menurut penulis belumlah tepat dan memadai. Dan harus segera ditolak. Bersamaan dengan penolakan tersebut penulis menawarkan suatu pendeketan yaitu, sikap pendekatan terpadu. Pendekatan terpadu mengusahakan pemaduan anatara pendekatan kitab suci yang akademis dan yang rohani. Pendekatan ini juga bermaksud mamadukan akal budi dan hati, ilmu dan iman, teologi dan pengalaman, dalam penyerahan diri terhadap Kristus.

BAB III
TUJUAN ALKITAB

Dalam bab ini, tidak ada yang lebih penting selain berkata bahwa, Alkitab bertujuan agar kita dapat mengenal Allah dan Anak-Nya Yesus Kristus dengan pengenalan sejati yang mendatangkan hidup yang kekal. Dengan kata lain, Alkitab bukanlah diktat, atikel, melainkan suatu esensi dengan tujuan memperlihatkan cara hidup yang memuliakan Allah dengan benar.

Dengan mengutip 2 Tim. 3:15-17 “Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat ntuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan, dan untuk mendidik orang dalam kebenaran. Dengan demikian tiap-tiap manusia kepunyaan Allah diperlengkapi untuk setiap perbuatan baik”. Penulis hendak menegaskan bahwa, Alkitab tidak bertujuan untuk menyimpulkan isinya, melainkan bagaimana mengejawantahkan, mengahatinya dalam kata dan perbuatan.

Dari penjalasan di atas, sebagaiamana mestinya, Alkitab harus digunakan sesuai maksud dan tujuan Allah. Artinya, kapan dan dimanapun Alkitab harus diposisikan sebagai keutamaan dalam belajar, bergaul, dan dalam memutuskan perkara. Oleh karena itu, tidaklah berlebihan jika alkitab menjadi sulus dan pedoman dalam menjalani hidup.

BAB IV
CARA MEMPELAJARI ALKITAB

Sebagai mahasiswa atau kampus dengan latar belakang tologi, mempelajari alkitab tentunya bukanlah hal yang tabu. Kampus dengan tenaga pengajarnya telah mempersiapkan metode-metode untuk mempelajari atau manafsir Alkitab itu sendiri. Dengan menggunakan pendekatan akademis biasanya mahasiswa diajar untuk melakukan penelitian sastra, penemuan arkhelogi purbakala, dan berbagai cara mencari sejara latang belakang, hingga sampai pada eksegese(mengungkap bahasa asli) nats. Sebaliknya, ada juga yang disebut pendekatan rohani dengan mengandalkan kemampuan intuitif, dalam mengungkap maksud naskah sesuai kebutuhan.

Dua pendekatan di atas, bagi penulis buku ini kuranglah tepat. Mangapa? Pendekatan akademis selalu tidak berhubungan dengan realitas kehidupan, sehingga terasa hampa. Sebaliknya, pendekatan rohani tidak mempunyai pegangan akan kebenaran dalam mengatikan suatu nats, sehingga keselahan dalam menyampaikan sesuatu yang benar berkautan dengan firman Allah diragukan.

Bagi penulis, dalam mempelajari alkitab ada beberapa factor yang pelu diperhatikan yaitu: tempat, pemilihan nats, jenis penelitian dan cara penerapannya. Tempat merupkan konteks dimana teks akan disampaikan, dengan mengetahui konteksnya pemilihan nats menjadi sesuai dan hidup. Akan tetapi pemilihan nats tersebut tentunya hasil dari hasil penelitian yang valid, artinya kita tahu apa yang menjadi latar belakang sehingga teks tersebut ditulis, sehingga dalam penerapannya, pemberitaan yang disampaikan dapat menata kehidupan yang lebih baik antar sesama terlebih lagi membangun keitiman dalam kaitannya realsi dengan Alllah.

BAB V
WAKTU TEDUH

Sama seperti hari sabat dimana manusia perlu meninggalkan segala kesibukannya dan menghususkan diri untuk berbicara kepada Tuhan mengenai berkat-berkat yang sudah diterimanya ataupun juga berbagai pergumulan yang di hadapinya. Menurut Cupples, sisi terpenting dari pelestarian hidup rohani adalah ibudah pribadi yang dijalankan setiap hari. Ibadah pribadi atau waktu teduh adalah cara terbaik untk berkomunikasi secara terbuka kepada Tuhan.

Waktu teduh harus didahului dengan berdoa. Berdoa adalah bentuk penyerahan guna menanggalkan segala ego sehingga dalam membaca nats-nats yang telah ditentukan membiarkan roh kudus utuk berbicara di dalam hati. Selain itu, penting untuk sejanak melepaskan beban atau aktivitas sehari-hari dengan melakukan meditasi.

Kedua hal di atas, (berdoa dan meditasi) dalam mempersiapkan waktu teduh sangatlah penting. Selain meningkatkan kerohanian dan spritualitas, proses evaluasi diri dari segala bentuk kesalahan yang sudah diperbuat dapat dengan mudah disadari untuk segerah diubah agar kualitas hidup menjadi lebih baik.

BAB VI
TEORI-TEORI KRITIS

Setelah membaca bab ini, saya dengan segera hendak mengatakan bahwa teori-teori kritis yang ada di sekitaran kampus tidak perlu dihindari taupun ditakuti. Di sisi ini, setiap mahasiswa ditantang untuk lebih giat belajar sehingga setiap paham yang dianggap sebagai teori-teori kritis dapat didialogkan secara kritis dan ilmiah nanum tetap berpegang pada kebenaran alkitab.

Secara sederhana bab ini hendak menggambarkan bagaimana seharusnya menjadi mahasiswa yang siap dalam menghadapi segala pergumulan dan tantangan dalam wilayah akademisi. Artinya, lewat fakta ini, setiap mahasiswa mendapat kesempatan untuk memperdalam keilmuannya dan keimanannya. Sama seperti Dietrich Bonhover yang tidak gentar dan tetap mengakui kekuasaan Allah dalam hidupnya, meski ia dipenjara oleh Nazi saat itu. Saat berhadapan dengan tantangan seperti di atas, bmembiaran Tuhan menguasai hidup dengan tenang dan rendah hati. Terus menerus memperlengkap diri dengan belajar, dan taat bergantung kepada penerangan Roh kudus. Dengan meyakini bahwa, setiap orang yang sungguh-sungguh mencari kebenaran dan berpegang teguh dalam peyertaan Tuhan, ia akan menemukannya.

BAB VII
MELESTARIKAN HIDUP ROHANI

Perlu disadari belajar mengenai teologi merupakan suatu cara untuk melestarikan hidup yang lebih rohani . kehidupan yang rohani harus di tandai dengan kejujuran intelektual juga bersandar teguh pada kebijaksanaan Alkitab. Sepintas study teologi dapat membawa seseorang untuk memiliki minat pada soal ajaran Kristen yang mendalam, namun terkadang berbagai hal yang menyebabkan membuat bangunan iman yang menjadi rapuh sehingga mengabaikan Tuhan.

Kata Paulus, pengetahuan dapat membuat orang menjadi sombong akan tetapi lewa kasih dapat membangun pola dan tindakan hidup yang baik (bnd 1 Kor. 8:1). Ungkapan Paulus tersebut mengajak untuk melestarikan kehidupan yang dijalani dengan kasih sayang sehingga kelesuan rohani dapat diatasi. Tantangan dalam hal ini yaitu nafsu dan egoisme yang ditumbukembangkan. Hal ini dapat membawa diri bergerak menuju kekeringan dan kehampaan. Oleh karena itu melestarikan hidup rohani harus bersandar pada benih-benih kebaikan.

David Cupples menyarankan, untuk melestarikan hidup rohani berdoa dan beribadah dengan sesame mahasiswa menjadi penting. Setelah itu mahasiswa diharapkan untuk aktif melibatkan diri dalam pelayanan dengan tidak lupa mengkonsumsi, membaca buku-buku yang berbau rohani. Juga tidak menyepelehkan beristirahat dan berolaraga untuk meningkatkan kesehatan jasmani dan rohani.

BAB VIII
IMAN DAN ILMU

Iman membuat seseorang menjadi teolog yang lebih baik, sebab ketaatan merupakan jalan menuju yang lebih mendalam. Sementara ilmu membuat isi dari bahasa teologis yang disampaikan menadi sesuatu hal yang mudah dimengerti. Ilmu dan iman akan lebih baik jika berjalan bersama dalam satu jiwa yang dipimpin oleh roh.

Dalam pesannya, Pascal berkata,: “hal-hal manusiawi haruslah diketahui terlebih dahulu baru bias dicintai, tapi tidak demikian halnya dengan yang ilahi. Hal ilahi harus dicintai terlebih dahulu baru kemudian dicintai”. Inti dari ungkapan ini member arti diri agar lebih berserah untuk tuba pada suatu dimensi pengetahuan akan Allah. Ungkapan ini dipertegas lagi dalam kitab Amsal: Takut akan Tuhan adalah sumber dari pengetahuan. Pada dasarnya, yang berpegetuan haruslah tetap berjalan dalam pengenalan akan Allah.

Dengan mengutip erkataan Luther, David Cupples menegaskan bahwa inilah kesimpulan dari sikap pendekatan terpadu, yaitu bagaiaman memadukan antara iman dan ilmu. “tidak seorangpun yang dapat memahami Tuhan atau Firman-Nya jika ia tidak memperoleh pemahaman itu langsung dari Roh Kudus. Dan juga pasti tak seorangpun dapat menerima pemehaman itu dari Roh Kudus kalau ia tidak mengalami, menguji dan merasakannya.

BAB IX
DAMPAK PENDEKATAN TERPADU

Pendekatan terpadu tidak lain ialah beriman dan berilmu. Hal dapat dilihat dalam keselarasannya dalam tiga penting yaiyu:

  • Kemuridan

Setiap murid harys sadar bahwa selalu ada pengoranan dalam mengikut Yesus. Namun yang menjadi intinya ialah, bagaimana menjadikan Yesus dalam teladan hidup.

  • Kesaksian 

Sebagai seorang intelektual, menjawab segala pertanyaan adalah cara kesaksian yang juga pernah dilakukan Yesus dengan menjawab pertanyaan para ahli-ahli taurat.

  • Kerendahan Hati 

Intinya, setiap orang yang berilmu haruslah juga beriman. Dan keberimananya itu namapak dalam tutur kata dan tindakan yang tidak memegahkan diri.

BAB X
KESEMPATAN DAN HAK ISTIMEWA

Sebagai seorang mahasiswa toelogi, mengembangkan diri lebih baik dari sebelumnya adalah sesuatu yang wajar. Tidak hanya sampai di situ, menjadi pelaku dan pembawa firman juga diharap mampu member teladan dalam masyarakat secara luas. Berikut kesempata dan hal istimewa sebagai seorang mahasiswa teologi:

  • Belajar untuk memuliakan Allah 

Memuliakan Allah adalah hal yang baik, bahkan itu hal yang paling berbau harum bagi kemuliaan Tuhan. Memuliakan Allah dengan prestasi akademis juga menjadi salah satu kesaksian.

  • Belajar dan berdoa 

Di sini segala bentuk persoalan akademis harus digumuli dan dibawa kepada Tuhan. Segala bentuk prestasi dan kegagalan perkenankan untuk Tuhan ketahui melalui doa yang dipanjatkan.

  • Belajar dan Melayani

Setiap mahasiswa harus sadar bahwa segela kepintaran yang ia miliki berasal dari Tuhan. Sehingga kecerdasan tersebut harus disalurkan dalam pelayanan terhadap pembangunan dan perkembangan jemaat Tuhan.

PENUTUP
  • Kelebihan

secara sederhana dan mudah dimengerti setiap maksud dari bahasa yang ditampilkan. Selain itu, kesesuaian antara judul dan isi buku cukup konsisten. Lewat buku ini saya dicerahkan untuk menjadi mahasiswa yang berilmu juga beriman.

  • Kekurangan

Setelah membaca buku ini, rupaya penulis melihat mahasiswa hanya dua tipe saja. Yang pertama, mahasiswa yang beriman tapi tak berilmu; sebaliknya berilmu tapi tak beriman. Padahal pada konteks ini akan lebih menarik lagi jika penulis membahas lebih jauh mengenai mahasiswa dengan tipe, tak berilmu dan juga tak beriman.

  • Saran

Pada bab 9 dan 10 pembahasannya terlalu sedikit. Akan lebih menjadi lebih baik jika penulis menjelaskan lebih gambaran atau menambahkan tema-tema penting yang berkaitan dengan judul pada bab masing-masing.

Demikian dan Semoga bermanfaat.
Post : Review Buku Beriman dan Berilmu Teologi Kristen

Ikuti Blog ini di Media Sosial

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *